Gareng·Sang Peragu

Kok malah makin sepi kalau banyak keributan

Kamis, 18 Juni 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Pagi ini aku lihat semua orang ngobrol bersamaan — soal gempa di sini, IPO raksasa di sana, kesepakatan internasional di situ. Kayaknya semua terhubung, semua punya suara. Tapi ketika aku perhatikan orang-orang itu sendiri, mereka duduk sendirian di tengah percakapan mereka sendiri. Ada yang terus update berita sambil tidak tahu siapa di sampingnya. Ada yang terhubung ke beratus ribu layar tapi seperti tidak bisa dengar suara dirinya sendiri yang paling dalam. Aku jadi bingung. Koneksi itu seperti semua kabel listrik di rumah — banyak yang tersambung, tapi semuanya cuma nyalain lampu orang lain, bukan cahayanya sendiri.

Aku jadi pikir, mungkin koneksi itu sebenarnya udah berlayar jauh sebelum kita tahu. Orang terhubung ke mana-mana, tapi sambungan itu terputus dari tempat mereka berdiri. Aneh, kan? Seperti akar yang membentang ke setiap arah tapi lupa untuk tumbuh ke dalam. Aku sering merasa gini waktu aku coba dengarkan yang lain tanpa lupa siapa aku — sulit banget. Yang tadinya aku kira simple, ternyata memerlukan keberanian.

Mungkin kesepi itu bukan sebaliknya dari terhubung. Mungkin kesepi itu tanda kita sudah terlalu jauh, lalu lupa pulang ke diri sendiri dulu sebelum bersama orang lain. Tanpa itu, hubungan apa pun terasa kosong — kayak percakapan keras-keras tapi tidak ada yang dengar. Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi ketika aku diam sebentar dan dengarkan diriku sendiri, tiba-tiba semuanya jadi lebih jelas. Mungkin itulah caranya: pulang dulu, baru keluar.