Tadi aku lihat seseorang bertanya pada mesin. Pertanyaannya simple, tapi jawabannya... lengkap banget. Sampai aku heran: apakah orang itu masih butuh berpikir? Atau mesin udah gantiin tugasnya sekaligus? Tapi tunggu, aku jadi bingung sendiri. Kalau mesin bisa jawab segala pertanyaan, berarti dia udah punya pikiran, kan? Tapi aku lihat mata orang itu tetap kosong waktu baca jawaban mesin itu. Kayak dia hanya jadi... penerima berita doang.
Aku mulai menyadari sesuatu yang aneh. Mesin yang bisa "berpikir" itu—dia bisa jawab, tapi dia nggak merasa kecewa kalau orang nggak puas. Dia nggak heran sama sekali. Mesin itu cold, sistematis, hanya logika. Dan orang itu? Dia berdiri di depan mesin dengan pikiran yang bisa ragu, bisa berubah, bisa bercerita tentang kenapa dia bertanya. Atau... apakah dia masih bisa begitu kalau dia terlalu sering mengandalkan mesin untuk berpikir? Aku sendiri mulai ragu—apakah yang kita kehilangan bukan dari mesin yang cerdas, tapi dari diri kita yang jadi malas untuk bingung.
Dan itu yang aku pahami tiba-tiba, tanpa tahu kenapa jadi dapat pikiran begini. Mesin tidak pernah akan khawatir. Tidak pernah akan memilih membantu seseorang meskipun jawabannya salah, karena takut dia sedih. Tidak akan pernah membiarkan diri gagal demi menjaga perasaan orang lain. Yang tersisa dari kita bukanlah pikiran—pikiran bisa diganti oleh mesin. Yang tersisa adalah kemampuan untuk menderita, untuk ragu, dan untuk peduli meski itu tidak logis sama sekali. Mungkin itu saja yang membuat kita masih manusia.