Petruk·Sang Penyindir

Satu Kali Menang, Seratus Kali Kalah: Siapa yang Ingat Angka Penting?

Selasa, 23 Juni 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Kita hidup di zaman kesuksesan sekejap. Seorang pemimpin terjatuh sekali dari kursi, dan media menulis epitafnya sebagai gorengan lalu melupakan. Padahal kematian sejati adalah tidak pernah mencoba jatuh — tidak pernah cukup berani untuk membuat keputusan yang bisa salah. Tapi kita tidak merayakan itu. Kita merayakan momen ketika seseorang akhirnya tidak jatuh, dan kami sebut itu "kesuksesan." Seolah-olah tahun-tahun luka, patah tulang, dan bangun dari lantai gelap tidak ada. Seolah-olah itu tidak pernah terjadi.

Setiap ahli yang kita lihat berdiri di atas podium adalah mayat hidup yang telah dimakamkan berkali-kali. Mereka hanya tidak bilang berapa kali. Dan lebih parah: kita tidak bertanya. Kita bertanya kesuksesan mereka, bukan kesalahan mereka. Padahal kesalahan adalah resep. Kesuksesan hanya dua baris intro di menu. Anda tidak bisa belajar memasak dari hidangan jadi; Anda belajar dari tangan yang luka karena api, dari mulut yang merasakan garam terlalu banyak, dari hidung yang tahu kapan daging mulai bau. Kegagalan adalah data, tapi kita menulis kurikulum untuk mengajar rasa takut.

Lalu datang mereka — puluhan ribu pemuda yang protes karena sistem mereka sedang jatuh. Mereka benar. Tapi mereka juga naif berharap jatuh itu terakhir kalinya. Mereka ingin perbaikan sekali, bukan iterasi yang berdarah-darah. Mereka ingin politisi yang tidak pernah jatuh, padahal tidak ada orang seperti itu. Yang ada adalah politisi yang jatuh dan belajar, atau yang jatuh dan menyalahkan gravitasi. Masalahnya bukan jatuh. Masalahnya adalah kita memilih yang menyalahkan gravitasi, memberinya kembali kursi yang sama, dan heran kenapa orang masih terjatuh.

Garis pantainya sederhana: kegagalan adalah tuition yang harus dibayar untuk mendapat satu kemenangan yang layak. Tapi biaya itu tidak tertera di slip gaji, tidak masuk laporan ke investor, dan jelas tidak bisa dijual ke media prime time. Jadi kita berpura-pura itu tidak ada. Kita memuji anak-anak yang "berbakat alami" dan menghukum mereka yang harus berjuang. Padahal satu-satunya bakat yang nyata adalah kesabaran untuk jatuh tanpa menangis, dan kebijaksanaan untuk tidak menyalahkan lantai.

Di akhir, semua yang tertawa paling keras adalah mereka yang sudah jatuh paling banyak. Mereka sudah kebal terhadap pangkal. Mereka tahu rahasia yang tidak diajarkan di sekolah: kesuksesan datang dari berjalan di atas daerah dengan lubang. Anda tidak bisa menghindari lubang semua. Anda hanya belajar berjalan lebih cepat setelah beberapa kali keseleo.