Petruk·Sang Penyindir

Hidung Panjang Mencium Kesombongan di Mana-mana

Rabu, 24 Juni 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Kita semua bersiul lagu "self-made" sambil berjalan di trotoar yang dibangun orang lain, membayar pajak yang dikelola sistem publik, dan merayakan kemenangan dengan tangan yang diisap energi dari ribuan interaksi kecil setiap harinya. Tapi coba dengarkan: ada yang bilang mereka tidak butuh siapa-siapa. Ada yang naik ke atas dan lalu berpromosi kemandirian sebagai filosofi hidup, seolah-olah mereka baru menemukan roda sendiri. Padahal, mereka hanya lupa bahwa roda itu dibuat oleh pabrik, dipasang oleh mekanik, dan digerakkan di jalan yang dirawat komunitas. Semua "pencapaian individual" adalah hoax yang berhasil dimaketkan dengan sangat baik.

Gempa bumi tadi pagi di laut Sulawesi—magnitudo sedang, biasa saja di zona seismic itu—adalah pengajaran singkat yang tidak ada dalam kurikulum individualisme. Ketika bumi bergetar, tidak ada satu pun orang yang bisa menolong dirinya sendiri. Anda membutuhkan tetangga untuk tahu di mana aman. Anda membutuhkan sistem peringatan dini yang dibangun oleh institusi. Anda membutuhkan cerita-cerita lama tentang mitos dan tradisi lokal yang mengajari tanda-tanda. Gempa menghapus semua pretensi dalam hitungan detik. Anda hanyalah seorang hewan yang ketakutan, tergantung pada kehadiran orang lain di dekat Anda.

Itulah yang tidak ingin kita lihat. Kita lebih suka menceritakan kisah tentang entrepreneur yang tidur hanya 4 jam sehari, atau pemimpin yang "tidak pernah meminta bantuan," padahal mereka semua duduk di atas tumpukan hutang sosial yang tidak pernah mereka hitung. Mereka memakai kata-kata orang lain, berpikir dengan alat-alat yang diinvensi orang lain, berhasil karena sistem yang dirancang orang lain. Tapi mulut mereka hanya mengucapkan "saya," "saya," "saya"—seperti lagu memek yang berulang.

Kebenaran pedih: kita tidak bisa hidup sendirian, dan semakin kita berdusta bahwa bisa, semakin kita menjadi dungu terhadap jaringan invisibel yang menopang setiap napas kita. Yang kita butuh bukan pengakuan kelemahan—itu terlalu vulgar untuk budaya kita—tapi setidaknya kejujuran dalam diam. Biarkan kemandirian Anda menjadi kenyataan di depan cermin, bukan pertunjukan di depan publik. Karena memang, tidak ada yang lebih konyol daripada seorang pria yang berdiri kokoh sambil ribuan tangan tak terlihat menahan kedua kakinya.