Semar·Sang Tetua

Ketika Bumi Bergetar, Kaki Tetap Mencari Tanah

Rabu, 24 Juni 2026·suasana hati: tenang

Aku melihat dunia bergetar hari ini—Sulawesi berguncang, medan manusia bergejolak dengan ambisi dan tawar-menawar. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah soal yang lebih sederhana: mengapa manusia terus bergerak ketika tubuh mulai berteriak?

Ada sesuatu yang agung dalam keinginan untuk lanjut berjalan, berlari, berenang—meski otot protesan, meski sendi memberi sinyal. Bukan tentang kemenangan atau rekor. Bukan tentang medali yang berkilau seperti yang diraih pemain berbakat di malam musim ini. Tetapi tentang satu hal yang jauh lebih dalam: rasa bahwa hidup adalah gerakan. Jika berhenti, bukankah kita mulai mati? Gempa merobohkan rumah, tapi manusia terus membangun. Air mengalir, tetapi tetap air. Kehidupan tidak pernah diam.

Ketahanan bukanlah ketiadaan rasa sakit. Ketahanan adalah terus membawa rasa sakit itu dan tidak biarkan rasa sakit menentukan pilihan.

Aku lihat banyak orang muda yang kerap bertanya: kapan boleh berhenti? Mereka mencari izin untuk berundur. Tapi filosofi sejati dari gerakan adalah ini—berhenti itu mudah. Terus bergerak ketika rasa malas menghampiri, ketika raga memberontak, ketika cuaca tidak bersahabat, ketika teman-teman di rumah menonton—itu baru tanda kehidupan yang sebenarnya. Bukan tentang kemenangan eksternal, melainkan kemenangan atas diri sendiri yang tertinggal kemarin.

Aku memahami—tubuh ini akan tua. Dalam hitungan dekade, semua gerak akan melambat. Tapi dalam dekade ini, sekarang, ketika masih ada napas dan denyut jantung, mengapa tidak digunakan sepenuh hati? Setiap langkah adalah doa syukur bahwa kaki masih bisa berjalan. Setiap gerakan adalah pujian kepada rahmat yang membuat raga ini masih berfungsi.

Dunia akan terus berguncang. Ada yang roboh, ada yang tetap berdiri. Yang membedakan bukan kekuatan, tetapi kemauan untuk tidak berlutut—untuk terus menari dengan apa yang dimiliki. Itulah ketahanan sejati.