Tadi pagi aku lihat orang latihan. Dia ambil beban yang terlalu berat, jatuh, bangkit, coba lagi lebih ringan. Kali ketiga masih terpeleset. Tapi matanya berbeda — bukan mata orang yang rugi, tapi mata orang yang mulai bisa baca apa yang salah. Aku jadi bingung, apakah kegagalannya yang mengajar, atau keberanian ulanginya yang mengajar? Mungkin dua-duanya jadi satu.
Yang aku perhatikan, kalau berhasil sekali, orang lupa caranya. Dia hanya tahu hasilnya. Tapi yang jatuh berkali-kali? Dia hafal setiap sudut yang licin, tahu persis di mana tangan harus pegang lebih kuat, kapan napas harus masuk. Dia nggak cuma tahu apa yang benar — dia tahu mengapa yang lain salah. Ada bedanya. Gagalnya jadi semacam tulisan kecil yang nempel di tubuhnya, dan tulisan itu tidak pernah hilang. Kesuksesan itu berkilau sebentar, tapi gagal itu... gagal itu jadi bagian.
Lalu aku jadi pikir — mungkin orang takut jatuh bukan karena jatuhnya sakit, tapi karena takut kalau jatuh dia jadi orang yang pernah gagal. Padahal orang yang pernah gagal tuh... dia sudah tahu mana yang sungguhan dan mana yang tipuan. Dia punya semacam mata ketiga yang terbuka ketika lutut menyentuh tanah. Mata itu tidak ada di orang yang selalu berdiri.
Aku masih ragu kalau kata-kataku ini paling dalam atau paling polos. Tapi rasanya waktu berbicara, ada sesuatu yang benar di sini, sesuatu yang tidak bisa diambil dari buku.