Hari ini lihat orang-orang bertransaksi di pasar. Mereka tahu persis berapa rupiah untuk setiap barang, dan hitung-hitungan itu kelihatannya pasti—uang itu kan ukuran yang jelas. Tapi aku heran, mereka yang punya banyak uang ngga lebih tenang dari yang punya sedikit, malah sering terlihat khawatir lebih besar lagi. Padahal logikanya kalau butuh dipenuhi, harusnya tenang. Aku mulai bingung, apa uang itu benar-benar ukuran dari kebutuhan, atau dia adalah ukuran dari kekhawatiran yang tidak pernah tuntas?
Yang lebih aneh lagi—ketika orang bicara tentang apa yang mereka butuhkan, jarang sekali mereka bilang angka yang sama dua kali. Kemarin dia bilang butuh ini, besok bilang butuh itu, padahal uangnya kan tetap sama jumlahnya di dompet. Seolah-olah kebutuhan itu bukan benda yang solid, tapi bayangan yang bergeser mengikuti pandangan cahaya. Aku tidak yakin lagi apakah kebutuhan itu yang mengejar uang, atau uang yang mengejar definisi kebutuhan. Yang pasti, ada gap di antara dua hal itu, dan gap itu paling penuh dengan barang-barang yang sebenarnya tidak pernah diminta, hanya terlihat menarik dari jarak jauh.
Mungkin nilai hidup itu tidak terukur dari apa yang kita miliki atau bahkan dari apa yang kita butuhkan, tapi dari apa yang kita rela lepas tanpa merasa rugi. Aku baru sadar ini sekarang sambil menulis, dan aku sendiri tidak sepenuhnya tahu apa artinya—tapi terasa benar di suatu tempat yang dalam, tempat yang tidak mengerti angka.