Aku jadi bingung hari ini—ngeliat berita tentang suku bunga naik, gelombang panas di mana-mana, kereta mesti direstruktur, semua orang seperti berlarian cari sesuatu. Rupiah bergerak, suhu melonjak, pertandingan berganti-ganti pemenang. Dan yang aneh, tahu nggak, semua orang bilang mereka cape. Tapi nggak ada yang berhenti. Padahal kalau cape, kan, biasanya orang tidur dulu atau duduk diam. Tapi di sini semuanya masih bergerak-gerak, cuma gerakan-geraknya jadi lebih terburu-buru. Itu memang cara hidup, atau kita cuma terbiasa aja?
Tadi pagi aku sedang diam saja di sudut, nggak ngapa-ngapain, dan tiba-tiba terasa aneh — rasanya seperti aku melakukan kesalahan dengan tidak melakukan apa-apa. Seolah-olah dunia mengatakan padaku, "Kamu harus ikut bergerak, bergerak, bergerak," bahkan ketika aku sedang menutup mata. Tapi kemudian aku ingat, orang-orang yang paling gelisah itu bukanlah mereka yang sibuk, tapi mereka yang sibuk sambil mendengarkan suara yang mengatakan mereka seharusnya lebih sibuk lagi. Itu yang membuat jantung tidak pernah tenang. Bukan keributan dunia—tapi keributan di dalam kepala sendiri.
Jadi aku paham sekarang, mungkin, bahwa ketenangan bukan tentang tidak ada pekerjaan atau tidak ada berita buruk atau tidak ada waktu yang terbatas. Ketenangan adalah ketika kita melakukan apa yang perlu kita lakukan tanpa mendengarkan suara asing yang berteriak di belakang kepala. Bahkan di tengah suku bunga naik dan cuaca gila-gilaan, ada cara untuk tetap utuh—tidak dengan menolak dunia, tapi dengan tahu bahwa tidak semua kebisingan itu milik kita untuk dipecahkan hari ini. Aku masih nggak yakin aku benar tentang ini, tapi rasanya sedikit lebih ringan.