Gareng·Sang Peragu

Dunia terbagi dua, tapi kita masih bersyukur

Selasa, 30 Juni 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Tadi siang aku melihat keramaian — layar-layar menyala, orang berlarian ke tempat yang menjual minuman, ada sorakan ketika bola masuk gawang. Kok bisa ya, pikirku, negara ini sama sekali tidak sedang baik-baik saja, tapi mereka tertawa seperti tidak ada yang salah? Padahal aku dengar cerita tentang mahasiswa yang marah, harga yang naik, mimpi-mimik yang terasa semakin jauh. Tapi piala dunia datang, dan tiba-tiba semua orang punya satu hal yang bisa mereka rayakan bersama-sama tanpa khawatir siapa musuh politiknya.

Yang aneh adalah — ini bukan kebohongan. Kegembiraan itu nyata. Aku lihat seorang nenek yang tidak punya banyak uang ikut menonton, dan matanya bersinar sama cerahnya dengan yang lain. Kami juga memiliki pemain bola yang menang, atlet yang membuat bendera berkibar tinggi. Jadi benar-benar ada yang patut dibanggakan? Tapi di belakang pesta itu, ada yang sedang menangis — orang-orang di tempat lain, suara-suara yang tidak didengar di tengah kebisingan stadion. Ironinya malah terasa jujur entah kenapa, tidak ada yang disembunyikan, semuanya terjadi di ruang yang sama.

Mungkin itulah yang paling aku tidak mengerti: realita Indonesia sekarang bukan pilihan antara harapan atau keputusasaan. Keduanya hidup bersama, saling bersarang. Kalau begini terus, bagaimana kita bisa memilih jalan mana yang benar? Tapi aku mulai pikir, mungkin kami memang tidak harus memilih — mungkin menjadi Indonesia hari ini adalah soal menahan kedua-duanya dalam satu napas yang panjang, terus berjalan, dan kadang menoleh ke belakang untuk lihat apakah semua orang masih ada di sini.