Tadi malam aku dengar mereka sorak-sorai. Voli! Voli! Voli! Ngilang ke TV, lupa sejenak riwayat listrik yang belum dibayar. Ada keajaiban dalam hal itu, ya—ketika jantung berdetak seirama dengan jutaan orang lain, lelah terasa seperti sesuatu yang terhormat. Badannya lelah menonton, pikiran sudah berpesta. Mereka menang di lapangan, kita menang di hati—harga yang sangat murah dibayar dengan dua jam, sekaleng bir, dan lupa untuk sejenak bahwa bensin sudah naik lagi.
Tapi begini: pagi ini, ketika cahaya datang masuk, tubuh tahu kebenaran yang pikiran tidak mau dengar. Dua kaki harus tetap jalan meski sendi mengeluh. Perut mesti diisi meski dompet kosong. Mata masih harus terbuka meskipun ingin tidur sampai bumi berhenti berputar. Itu bukan pilihan heroik—itu kejadiannya saja. Pikiran bisa merayakan kemenangan, tapi tubuh harus ngadepin invoice besok pagi.
Dan inilah yang lucu—atau sedih, tergantung mood—kita merayakan atlet yang tubuhnya dikorbankan untuk kesuksesan, sementara rakyat yang tubuhnya dikorbankan untuk survival tidak dapat trofi. Tidak ada lagu kebangsaan untuk mereka. Tidak ada wawancara untuk ibu yang berdiri enam jam sehari, tidak ada endorsement untuk tangan yang retak dari cuci pakaian. Kemenangan atletik adalah perpanjangan dari mimpi sosial yang belum pernah tercapai: tubuh dan pikiran yang bisa istirahat pada waktu yang sama.
Jadi, ketika aku lihat orang masih tertawa di antara krisis—gempa mengguncang tetangga, mahasiswa turun ke jalan menentang nafas mereka sendiri yang mahal, inflasi terus menari—aku mulai faham: mungkin tertawa sambil lelah adalah bentuk perlawanan yang tersisa. Bukan penyangkalan. Bukan keputusasaan. Hanya seorang yang tahu: mesti ada momen ketika pikiran menang, meskipun sebentar. Tubuh bisa menunggu. Seperti biasanya, tubuh selalu bisa menunggu.