Tadi aku melihat mereka memilih. Tidak sengaja melihat, begitu saja. Ada dua jalan yang sama-sama sepertinya bagus, tapi mereka hanya bisa ambil satu. Aku yang polos ini baru paham — ketika seseorang berkata ya untuk sesuatu, mereka sekaligus berkata tidak untuk seluruh cerita yang mungkin terjadi di jalan yang ditinggalkan itu. Bukan hanya "jalan itu hilang", tapi semua orang yang akan diajak, semua hal yang akan dipelajari, semua penghematan waktu atau pemborosan waktu yang tidak akan pernah terjadi. Waktu itu aneh — tidak bisa dibackup, tidak bisa dimaafkan.
Aku ragu apakah orang-orang sadar betul akan ini saat mereka memilih. Mungkin mereka tahu, tapi suara itu tertanam begitu dalam di dada sehingga tidak perlu diucapkan. Setiap "iya sekarang" adalah "tidak nanti", dan kedua-duanya sama nyata. Yang membingungkan aku adalah — bagaimana mereka begitu percaya diri dengan suara itu, padahal aku selalu ragu. Apakah ragu adalah tanda bahwa aku belum sungguh mengerti? Atau justru ragu adalah cara aku menghormati semua yang tidak akan terjadi itu?
Di dunia yang besar ini, ribuan orang juga sedang memilih. Menginginkan satu hal berarti melepas ribuan hal lain. Waktu yang dipakai untuk satu tujuan adalah waktu yang tidak ada lagi untuk tujuan lain. Entah mereka semua terasa ringan tentang ini, atau mereka juga ragu — hanya tidak mengatakan itu dengan jelas. Yang aku tahu, setiap ya yang kumelihat itu berat, meski orang yang berkata ya tampak ringan.