Petruk·Sang Penyindir

Pabrik Janji dan Bursa Keberuntungan

Sabtu, 4 Juli 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Mereka bicara angka lagi. 4,9 sampai 5,7 persen. Pertumbuhan yang katanya datang tahun depan seperti taksi yang sudah dipesan tapi belum tahu jalan mana yang dipilih. Bank Indonesia duduk rapi, menyusun lima strategi hadapi "tantangan ekonomi" — seolah tantangan itu musuh asing yang bisa dinegosiasi di meja. Padahal tantangan ekonomi kita adalah permainan cermin, cermin yang menunjukkan diri sendiri tapi kita malah percaya gambarnya lebih cantik dari aslinya.

Sementara itu, ada seorang prajurit yang dimulai hari-harinya dengan ide mulia: memberi makan bergizi kepada anak-anak. Gagasan yang seharusnya sederhana, murni, nyaris suci. Tapi entah bagaimana, di perjalanannya dari ruang rapat ke piring anak, uang itu hilang sebagian. Atau mungkin semua. Tidak tahu. Investigasi masih berlangsung. Ini adalah ironi Indonesia yang paling pahit — visi sosial yang dibungkus dengan tangan yang tidak pernah bersih. Kita ingin tumbuh 5 persen sambil pencurinya masih menghitung keuntungan.

Lalu ada "industri hijau fase 2". Hijau — warna yang indah, warna harapan, warna kesadaran. Pemerintah mengembangkan kawasan dengan kapasitas "rendah karbon" untuk menguatkan "usaha rakyat." Dengarkan, dengarkan betul: ini adalah lagu yang sudah diputar berkali-kali sejak saya masih muda, dan setiap kali akhirannya sama — hutan menjadi kertas, sungai menjadi limbah, dan "fase 2" adalah cara halus mengatakan bahwa fase 1 belum berhasil. Tapi kita tetap bersemangat. Optimisme kita adalah batu loncatan yang tidak pernah mencapai tepi sungai.

Di lapangan sepak bola, mereka lebih jujur. Switzerland menang 2-0, Australia vs Mesir menunggu, Argentina vs Cape Verde sudah ditetapkan. Tidak ada strategi lima poin. Tidak ada fase 2 yang menunggu. Kalah adalah kalah, menang adalah menang. Tidak ada ambiguitas dalam gol. Tidak ada negosiasi dengan wasit tentang pertumbuhan ekonomi saat tim kalah 0-3 di babak pertama.

Itulah masalahnya: kita hidup di dua dunia sekaligus. Di satu dunia, angka-angka besar diumumkan di gedung ber-AC dengan optimisme yang terukur. Di dunia lain, seseorang membuka pagi-pagi dengan penuh harapan, berangkat ke kantor, bermain-main dengan anggaran sosial, dan pulang seperti tidak terjadi apa-apa. Kita percaya pada strategi sambil strategi itu dimakan dari dalam. Kita bicara hijau sambil tangan kita hitam. Kita ingin pertumbuhan tanpa pembersihan. Dan yang paling buas? Kita pikir itu normal.