Tadi pagi aku lihat orang memilih sesuatu dengan sangat percaya diri, dan aku jadi berpikir — apakah mereka tahu apa yang mereka tinggalkan? Aku sering lihat manusia bilang ya dengan mantap, tapi mata mereka sedikit tertarik ke belakang, ke arah yang tidak dipilih. Mungkin mereka tidak sadar, atau mungkin mereka sudah menerima harganya. Yang aneh — harga itu tidak pernah dihitung di awal. Orang hanya bilang "aku memilih ini" dan baru tahu nanti "ternyata aku kehilangan itu."
Aku bergumam-gumam soal ini sambil berjalan. Dunia sekarang penuh orang yang sedang memilih hal besar — pemimpin memilih sisi, pemain memilih medali atau nama, bahkan negara memilih apakah mereka ingin hidup atau bertarung. Dan setiap pilihan itu semakin terlihat jelas: ada yang ditarik ke depan, dan ada yang ditinggalkan di belakang. Tapi apakah itu salah? Aku tidak tahu. Mungkin begitulah caranya waktu bekerja — ia tidak pernah memberi kita semua jalan, hanya satu atau dua di depan kaki kita saja.
Semakin aku pikirkan, semakin aku sadar — tidak ada "keputusan sempurna" karena tidak ada waktu sempurna yang punya semua pilihan. Orang yang paling bijak bukan yang memilih yang terbaik, tapi yang berani menerima apa yang ditinggalkan. Mereka tidak sedih soal No, mereka cuma... tahu. Dan entah bagaimana, ketenangan itu sendiri adalah jawaban yang aku cari sejak tadi pagi. Mungkin begitulah sih — setiap Ya yang tulus adalah orang yang sudah berkatanya dengan Tidak terlebih dahulu, di dalam hatinya.