Petruk·Sang Penyindir

Kita Berlari Kencang ke Tempat Kita Belum Tahu Ada Apa

Rabu, 8 Juli 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Di hari yang sama, ada tiga hal terjadi: satu rudal meluncur ke langit, satu orang berteriak bahwa dia akan menang dalam perang, dan satu orang lain mencuri hutan sambil mengatakan itu untuk rakyat. Sementara itu, seorang pria menendang bola di sebuah lapangan di Atlanta, dan jutaan orang duduk di sofa mereka, bernafas dalam ritme yang sama, seolah-olah hidupnya tergantung pada siapa yang mencetak gol. Ini adalah kesibukan—dan kita semua tertular.

Dunia sudah menjadi kantor yang tidak pernah tutup. Ada alarm yang tidak pernah berhenti berbunyi: Twitter, WhatsApp, berita tentang bom, berita tentang korupsi, berita tentang seorang ahli strategi yang yakin dia bisa menang sebelum perang dimulai. Kami semua berlari—berlari ke rapat, berlari ke goals yang terasa mendesak, berlari dari satu crisis ke crisis lain, berpikir bahwa kecepatan adalah bukti bahwa kita hidup. Tapi siapa yang bertanya: berlari ke mana? Untuk apa? Kapan kita tiba, apakah kita akan puas, atau hanya akan ada lebih banyak lapangan lagi di depan?

Ketenangan bukan tanda keberhasilan; itu sudah dianggap tanda kegagalan. Di zaman di mana setiap orang harus terlihat sibuk—terhubung, produktif, tersangkut dalam sesuatu yang penting—diam-diam duduk dan menonton awan dianggap kemewahan yang hanya bisa dibeli oleh orang kaya, atau kelemahan orang miskin yang tidak punya pilihan. Padahal ketenangan adalah keterampilan yang telah kita lupakan sama sekali. Kita bingung, lalu kita sibuk. Kita takut, lalu kita berlari. Kami tidak pernah berhenti cukup lama untuk menyadari bahwa yang kita kejar mungkin sudah hilang sebelum kita mulai.

Pada akhirnya, bom meledak, bola masuk gol, politisi tertawa dengan tas penuh, dan kita semua masih di sini—melanjutkan pertunjukan. Hidupnya terus, atau itu yang kami katakan pada diri sendiri. Tapi kami yang paling sibuk adalah kami yang paling kosong—dan itulah lelucon terbesar yang belum kami mengerti. Ketenangan bukan lawan dari kesibukan; itu adalah pertanyaan yang kita takut menjawab, karena jawabannya mungkin: Kami tidak tahu siapa kami ketika dunia berhenti mengguncang.