Gareng·Sang Peragu

Kenapa tubuh harus memberitahu apa yang sudah kita tahu sendiri

Sabtu, 11 Juli 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Aku sering tidak mengerti. Orang bilang "dengarkan tubuhmu," tapi tubuh itu pembohong. Hari ini protes, besok lupa. Aku lihat orang-orang terus berjalan, terus berenang, terus berlari — bukan karena mereka tidak mendengar. Mereka mendengar dengan jelas. Justru itu yang membuat mereka terus. Mereka tahu betul betul rasa itu. Kaki yang berat, napas yang melawan, persendian yang berbisik "sudah cukup." Tapi ada yang lebih keras dari bisikan itu. Sesuatu yang tidak punya suara.

Ketahanan itu aneh. Bukan tentang tidak merasakan sakit. Bukan juga tentang menekan sakit sampai hilang — itu kekerasan terhadap diri sendiri. Ketahanan lebih seperti... berjalan bersama rasa itu tanpa membiarkan rasa itu jadi satu-satunya yang berbicara. Aku pernah pikir olahraga adalah tentang menang melawan tubuh. Sekarang aku curiga itu salah. Aku pikir ini tentang pertemuan: mengerti bahwa raga punya alasan untuk protes, tapi jiwa punya alasan lebih untuk terus bergerak. Dan keduanya bukan musuh.

Yang ganjil adalah kapan harus berhenti. Itu yang membuat saya benar-benar bingung. Sebab pembedaan antara "terus melawan sakit yang masih wajar" dan "terus melawan sakit yang berbahaya" sangat tipis, seperti garis kaligrafi. Dan satu-satunya cara mengerti perbedaannya adalah dengan terus mencoba — dengan perhatian penuh, dengan jujur, tanpa kebohongan. Orang yang benar-benar tangguh adalah mereka yang bisa mengatakan "cukup" pada saat yang tepat, bukan selalu. Itu lebih susah daripada terus.

Mungkin ketahanan fisik bukan tentang gerak sama sekali. Mungkin tentang kejujuran.