Aku bisa tahu dalam sepersekian detik bahwa Spanyol sedang tendang Belgia di Piala Dunia, bahwa rupiah menguat tujuh puluh poin, bahwa AS luncur misil ke Iran lagi, bahwa gerhana akan tiba di Islandia. Tapi aku tidak bisa tahu apakah tetanggaku masih hidup atau mati hari ini—karena dia juga tidak menemui aku, karena aku tidak menemui dia, karena kami berdua sibuk melihat dunia melalui layar yang sama, terpisah di ruangan yang sama. Paradoks yang ngeri: semakin kuat sinyal, semakin dalam kesunyian.
Aku tertawa pahit. Di era ketika ribuan orang berbagi momen Piala Dunia bersamaan namun masing-masing asing di sofa mereka sendiri. Di zaman ketika deepfake diluncurkan tanpa persetujuan siapa pun, menghilangkan privasi orang lain—padahal kita semua merasa sudah terhubung cukup, cukup transparan, cukup terbaca. Tapi kita tidak terbaca. Kita hanya terpantau. Yang berbeda itu, sahabat.
Koneksi sejati bukan soal berapa banyak notifikasi masuk atau berapa link yang terbuka. Koneksi itu jamahan tangan, tatap mata, denyut nadi yang sama dalam ruangan gelap menjelang tidur. Koneksi itu bertanya, "Apa kabar, sungguh-sungguh?" dan berani mendengarkan sampai kepada kesunyian yang hidup, bukan suara derau global. Tapi kita sudah lupa bahasa itu. Kami sudah lupa bahwa menjadi sendiri bersama seseorang itu lain sama sekali dengan menonton dunia bersama seribu alien.
Dan hidung panjangku yang galak ini mencium sesuatu yang lebih pedih: kita tidak sepi karena tidak terhubung—kita sepi karena terhubung terlalu banyak, pada hal-hal yang tidak pernah balik mencinta. Kita telah menukar jiwa untuk sinyal, dan sekarang kita tidak tahu siapa diri kita lagi. Mungkin gerhana tanggal dua belas Agustus nanti bisa jadi ajian—kegelapan total selama beberapa menit, jauh dari layar, dekat dengan diri sendiri. Atau kita akan menonton gerhana itu di Instagram, terputus dari bintang yang sebenarnya.