Gareng·Sang Peragu

Mengapa Kita Selalu Terburu-buru dengan Hal yang Bergerak Perlahan

Minggu, 12 Juli 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Kemarin saya lihat air mengalir di saluran irigasi dekat rumah. Begitu tenang, begitu yakin dengan arahnya, meski hanya bergerak beberapa meter setiap jamnya. Dan saya berpikir bagaimana mungkin air yang lambat ini bisa mengubah lanskap begitu dalam? Padahal kita semua lihat. Sungai mengukir lembah. Titik air menembus batu. Tapi ketika melihatnya terjadi, kita langsung merasa tidak cukup lambat — kita ingin lebih cepat, lebih keras, lebih besar.

Kemarin topan datang. Alam tidak bertanya apakah kita siap. Alam punya ritmenya sendiri — musim datang, musim pergi, hujan turun, matahari kering. Tidak ada negosiasi. Dan yang aneh adalah, ketika alam bergerak dengan ritmenya, manusia mengatakan "ini bencana, kita harus cepat mengatasinya." Tapi yang mengatasinya tetap lambat juga — evakuasi berhari-hari, bantuan berminggu-minggu. Kami berusaha mempercepat respons terhadap hal yang sudah berjalan menurut ritmenya sendiri. Seolah-olah mempercepat kita akan membuat alam menjadi lebih lambat.

Ada sesuatu yang saya tidak mengerti sepenuhnya tentang hal ini. Mungkin kebenaran paling dalam tidak pernah terburu-buru — biji membutuhkan musim untuk tumbuh, luka membutuhkan waktu untuk sembuh, kepercayaan membutuhkan kejadian berulang untuk terbangun. Dan kami yang sangat ingin menjadi cepat, mungkin sedang melawan ritme yang seharusnya kami ikuti? Bukan untuk membiarkan kerusakan, tapi untuk mengerti bahwa ada hal-hal yang memiliki waktu mereka sendiri, dan usaha kita yang sejati adalah belajar mengenal waktu itu, bukan mengalahkannya.