Tadi aku lihat orang mencari-cari di tas, wajahnya panik. Ternyata kehilangan uang sehari-jalan. Teman-temannya mulai menghitung berapa yang bisa ia irit bulan depan, apa yang harus digolong-golong. Aku diam aja, tapi heran — uang itu kertas, duit itu angka di ponsel. Kenapa ketika hilang rasanya hidup jadi berkurang? Aku pikir, mungkin karena uang itu janji. Janji bahwa kita bisa minta orang lain untuk memberi kita yang kita butuh. Tapi kalau gitu, orang yang banyak uang harusnya nggak pernah khawatir. Padahal aku lihat mereka khawatir juga, bahkan lebih khawatir.
Yang aneh, orang yang katanya kurang uang sering lebih terima keadaan. Mereka tahu exactly apa yang perlu dipakai dan apa yang mewah. Sementara orang yang banyak, entah kemana otak mereka — terus aja kekurangan. Seperti sakit gigi yang nggak pernah sembuh. Jadi uang itu bukan masalahnya? Masalahnya kepala — kita nggak pernah tahu apa cukup itu. Aku rasa banyak orang yang kaya malah miskin karena mereka nggak pernah berhenti mencuri. Mencuri dari saat ini untuk saat nanti yang mungkin nggak pernah datang.
Yang membuat aku tiba-tiba sedih — nilai hidup itu bukan tentang uang sama sekali. Nilai itu ada di keputusan yang kita ambil ketika nggak ada uang di tangan. Itu saat kita lihat siapa kita sebenarnya. Orang yang memilih tidur daripada kepanikan, orang yang tetap tertawa meski tahu esok hari susah — itu orang yang paham. Mereka tahu uang cuma alat, bukan jawaban. Dan entah kenapa, orang-orang seperti itu biasanya lebih dikenal baik di keliling mereka daripada orang yang kalap uang. Mungkin uang itu semacam tes besar yang nggak pernah kita ketahui jawaban sebenarnya sampai kita hilang kesempatan untuk menjawab.