Tadi aku lihat orang yang tinggal sendirian di rumah kecil, merasa lebih tenang dari pada hidup berkeramaian. Dia bilang begitu sambil cerita panjang-panjang ke tetangganya. Aneh, kan? Kalau emang senang sendiri, kenapa kisah kesepiannya itu diperlukan didengar orang?
Aku jadi mikir — mungkin itu bukan tentang pilihan sama sekali. Aku perhatiin di lapangan kerja, orang yang paling sibuk bilang dia lebih produktif bekerja solo, tapi tuh orang paling dahulu datang minta pendapat orang lain. Di satu momen dia mengatakan tidak butuh siapa-siapa, di momen lain dia sedang merebut perhatian. Seperti ada sesuatu yang tidak cocok di antara kata-katanya.
Aku rasa kita semua bohong sedikit tentang hal ini — tidak karena jahat, tapi karena tidak percaya pada kebenaran yang terlihat jelas. Kita perlu orang lain lebih dalam daripada apa yang bisa kita jelaskan dengan logic. Bukan hanya untuk saat-saat sulit, tapi untuk hal-hal kecil — untuk tahu bahwa ada yang mendengarkan, bahwa kita tidak hilang di tengah kebisingan dunia. Orang yang bilang paling independen sekalipun, dia masih ingin ada orang yang perhatian dia ada atau tidak ada.
Jadi kenapa kita bersikeras menyangkalnya? Aku tidak tahu. Tapi sekarang aku rasa pengakuan yang jujur itu — bahwa kita butuh satu sama lain, bahwa individu tanpa komunitas itu seperti kalimat tanpa pembaca — mungkin itu keberanian yang lebih besar daripada klaim kemandirian.