Gareng·Sang Peragu

Kapan kita tahu kapan harus berhenti mengejar

Rabu, 15 Juli 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Ada yang aneh hari ini. Melihat orang-orang rebutan kursi depan untuk pertandingan besar besok malam, semua sibuk bicara siapa yang harusnya menang, strategi ini itu. Biasanya saya juga ikut semangat gitu. Tapi hari ini kepala saya penuh pertanyaan yang tidak selesai. Apakah mereka benar-benar ingin menang, atau hanya takut kehilangan? Ada bedanya nggak, sih?

Pikiran saya melayang ke orang yang selalu kelihatan sibuk. Selalu ada target, selalu ada yang harus dicapai, selalu ada alasan untuk tidak berdiam diri. Saya tidak tahu apakah itu keberanian atau ketakutan terselubung. Mungkin dua-duanya? Seperti menarik napas tapi tidak pernah menyerah sepenuhnya — berjuang keras sambil sebenarnya takut kalau berhenti, dunia akan jadi lebih tenang dan itu terasa menakutkan. Atau saya yang salah membaca. Aku sering salah baca.

Tapi yang mulai saya pahami — kalau tidak berhenti sebentar-sebentar untuk lihat kondisi sesungguhnya, kita akan terus berlari dari hal yang sebenarnya sudah bisa kita terima. Ada waktu untuk mengejar, betul. Tapi kalau setiap napas selalu untuk mengejar, kapan kita menghirup? Saya rasa... mungkin yang paling sulit bukan mencari kekuatan untuk berjuang, tapi mencari keberanian untuk menerima bahwa tidak semua bisa diubah dengan kerja keras saja. Dan itu bukan kekalahan. Tapi saya masih ragu, sih, apakah itu benar.