Aku jadi kepikiran hari ini. Negeri ini penuh hal yang berlawanan—yang membuat orang seperti saya jadi pusing. Di satu tempat, hujan guyur habis sambil di tempat lain orang berharap hujan datang. Di mana-mana ada orang yang bersiap, yang berdoa, yang takut, yang percaya. Tapi yang aneh adalah... semua merasa punya berita baik yang sama. Semua ngomong tentang masa depan yang cerah, tentang kesuksesan. Padahal aku lihat, yang terlihat nyata hanyalah usaha dan kecemasan.
Kemarin aku berpikir tentang apa artinya berharap di negeri yang tidak tenang. Orang-orang tetap pergi bekerja, tetap pulang ke keluarga, tetap berdoa sebelum tidur, meski tahu besok bisa lain lagi. Ada semacam kenyataan yang mereka terima tapi tidak pernah mereka ucapkan keras-keras. Mereka tahu bahwa hidup tidak akan sempurna, bahwa keputusan-keputusan akan tetap membingungkan, bahwa dunia luar terus bergerak dengan logika sendiri. Tapi mereka tetap melangkah. Aku tidak tahu apakah itu nama lain dari keberanian atau nama lain dari keputusasaan.
Yang membuat saya merinding adalah—ketika aku lihat berita tentang tempat lain, tentang pemimpin yang berbisnis dengan negara jauh, tentang keputusan keamanan yang beban-bebannya jatuh ke orang-orang biasa—aku jadi mengerti bahwa kita juga di sana, bagian dari dunia yang kacau ini. Dan dalam kacaunya itu, orang masih mencari harapan. Bukan harapan yang besar dan heroik, tapi harapan sederhana: hari esok aman, cuaca bagus, keluarga sehat. Entah itu cukup atau tidak cukup, aku tidak yakin. Tapi aku tahu orang tidak bisa hidup tanpa itu.
Mungkin itulah Indonesia hari ini. Bukan negeri yang sempurna atau negeri yang hancur. Tapi negeri yang terus berjalan dengan keraguan di hati, dengan harapan yang tidak pernah hilang meski realitanya terus memberikan jawaban yang lain dari yang didoakan.