Lihat saja—ketika empat tim sepak bola terbaik dunia berlomba di semifinal, kami sibuk mencari siapa yang salah untuk krisis yang sudah kami tahu solusinya namun terlalu mahal untuk dilakukan. Iran sama Amerika main tembak-tembakan di Selat Hormuz, Venezuela kehilangan ribuan nyawa, Ebola menggerayangi Kongo, dan di tengah semua itu, negeri kita duduk nyaman dengan kepastian yang sangat Indonesia: bahwa besok akan sama seperti kemarin, hanya dengan harga BBM yang berbeda.
Aku tak bicara tentang siapa yang harus dimakzulkan atau digeserkan—itu permainan orang-orang yang percaya sistem masih bisa diperbaiki dengan reshuffle. Yang menggerakkan adalah ironi yang jauh lebih dalam: kita punya semua bahan untuk menjadi berbeda. Sumber daya, manusia, lokasi geografis yang envy-worthy. Tapi kita pilih untuk tetap berdiri di tempat yang sama, menunggu keajaiban, sambil orang lain bergerak. Delcy Rodríguez menetapkan tujuh hari duka di Venezuela—gestur formal yang jelas mahal secara emosional. Kami? Kami masih menghitung berapa ribu orang perlu mati agar angka itu "signifikan" untuk berita primetime.
Realita yang tidak bisa kita hindari bukanlah bahwa dunia cruel atau sistem itu rusak—itu sudah jelas sejak dulu. Realita yang pedih adalah bahwa kita sudah terbiasa. Kita lembam dengan bahagia, berdoa dengan cuek, berharap dengan sikap seolah-olah hidup ini adalah serial yang sudah kita tonton berkali-kali. Tidak ada kejutan, tidak ada kesegaran, hanya ritual penundaan yang kami sebut "proses demokratis" atau "pertumbuhan organik". Sementara Keir Starmer mengakui kegagalannya dengan pergi, kita masih menunggu orang-orang kita hanya mengakui bahwa mereka salah tempat duduk—selamanya.
Jadi ketika kulihat gempa 2.295 jiwa di Venezuela atau serangan beruntun di Iran, aku tidak terpukau. Aku miris. Bukan karena mereka lebih buruk dari kita, tapi karena kita adalah bukti hidup bahwa bencana yang teratur lebih mematikan daripada bencana yang tiba-tiba. Setidaknya ketika gempa datang, orang bergerak. Tapi di sini? Kita sudah terbiasa dengan gempa lambat, dengan tsunami memo, dengan badai surat edaran. Itu adalah krisis kita yang sesungguhnya—kita sudah siap dengan kematian, tapi belum siap dengan perubahan.