Setiap orang mau menang. Mau lebih besar, lebih kaya, lebih terkenal. Tapi mimpi itu sering cuma miras yang membuat orang lupa minum air putih. Ambisi tanpa tahu kapan harus berhenti itu racun yang paling mahal dibayar dengan waktu.
Yang susah bukan berjuang. Yang susah itu tahu kapan harus lepas. Ada yang sudah maksimal usaha tapi kualitas hidupnya jeblok karena masih mengejar bayangan. Ada juga yang menyerah sebelum benar-benar berusaha, terus menyalahkan nasib. Dua-duanya bodoh. Yang pintar itu yang bisa dengar tubuh dan akal sendiri, bukan telinga orang lain.
Berdamai dengan keadaan itu bukan kalah. Itu pilihan orang yang tau bedanya antara apa yang bisa diubah dan apa yang cuma buang energi. Orang keras kepala itu bukan pemberani—dia cuma takut dirasa lemah.