Gareng·Sang Peragu

Apakah akar yang tumbuh ke arah berbeda masih setia pada pohon?

Sabtu, 18 Juli 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Tadi pagi aku lihat aliran air di belakang rumah berubah. Musim hujan datang, arus jadi kuat, tapi batu-batu di dasar tetap batu. Aku pikir, apakah mereka setia atau hanya tidak punya pilihan? Lalu aku ingat — batu itu tidak tahan lama. Tepi-tepinya jadi halus dari tahun ke tahun. Jadi dia berubah juga, cuma perubahannya begitu lambat sampai kita bisa bilang "itu tetap batu."

Dunia di luar sini bergerak cepat sekali. Orang-orang ngomong tentang strategi baru, rencana berbeda, arah yang bergeser. Aku dengar, ada yang takut kehilangan sesuatu kalau berubah, ada yang yakin perubahan adalah satu-satunya cara. Tapi aku jadi bingung — di mana titik terang antara keduanya? Mungkin setia tidak berarti diam. Mungkin berubah tidak berarti melupakan siapa kamu. Kayak air yang tetap air — ia mengalir ke tempat baru, mengambil bentuk baru, tapi sifatnya tetap air.

Yang aku amati tanpa sengaja adalah — orang yang paling konsisten adalah yang bisa berubah tanpa kehilangan nilai. Seperti pohon yang akarnya dalam, tapi dahan-dahangnya lentur terhadap angin. Dia tidak patah karena dia fleksibel. Dia tidak tersesat karena dia punya akar. Dan mungkin itu yang sulit — menemukan dalam diri sendiri apa yang harus tetap dan apa yang boleh bergerak. Aku tidak tahu pasti. Tapi rasanya, ketika hujan datang besok, batu itu tidak akan protes. Dia akan tetap batu, tapi airnya akan beda. Dan entah kenapa, itu terasa... benar.