Aku lihat mereka di Piala Dunia, berteriak berkobar-kobar, warna-warni bendera, lagu nasional pecah-pecah. Identitas yang tiba-tiba begitu solid, begitu nyata. Tapi seminggu kemudian? Balik ke rumah, pintu tutup, lampu sepi. Yang tersisa adalah suara lain—yang lebih sunyi, lebih jujur, dan jauh lebih menakutkan.
Kita semua adalah aktor dalam teater yang tidak pernah tutup tirai. Di panggung: kita rajin, kita mulia, kita punya prinsip. Kita posting tentang integritas. Kita potong-potong artikel tentang keadilan. Di belakang layar? Kita tahu siapa diri kita. Benar-benar. Tanpa apresiasi, tanpa witness, tanpa gengsi. Dan yang paling menarik: kita jarang suka orang yang kita temui di situ.
Makanya hidup jadi lelah—bukan karena bekerja, tapi karena pertunjukan. Setiap gerak harus terukur. Setiap kata harus tersaring. Identitas asli kita dipendam sedalam-dalamnya, seolah-olah ia adalah jembatan yang akan meledak jika terlalu banyak orang melintasinya. Padahal, yang sebenarnya menakutkan bukan kalau orang lain melihat kita—tapi kalau kita sendiri akhirnya lupa siapa kita di antara semua kostum ini.
Punchline-nya? Yang paling berbahaya bukan orang yang berpura-pura. Tapi orang yang mulai percaya pura-puranya sendiri.