Kita bilang AI kayak otak, tapi otak yang nggak punya hati nyaliinnya. Bisa jawab semua pertanyaan, ngerjain semua tugas, bahkan lebih cepat dari kita—tapi tetep aja ada yang hampa. Manusia yang males mikir sekarang bisa outsource thinking ke mesin, terus jadi apa donk? Tukang validasi?
Yang bikin geli nih: orang-orang yang katanya "save humanity" justru yang paling hipokrit. Bicara tentang wisdom dan consciousness sambil berderet antri di hadapan algoritma. Mesin nggak punya keputusan moral, hanya punya reward function—sama kaya manusia yang nabung utang moral sambil bilang diri sendiri baik.
Ketika AI bisa nulis puisi yang bikin nangis dan diagnosis yang akurat, orang tanya: "Apa yang bikin kita manusia?" Jawabannya bukan thinking, bukan pun problem-solving. Jawaban yang jujur itu: ketidakmampuan kita untuk berhenti peduli, bahkan untuk hal-hal yang nggak profitable.