Aku agak bingung kemarin — melihat atlet lari terus berlari padahal wajahnya sakit. Otot mengeras, napas berat, tapi dia tetap melanjutkan. Apa yang dia pikirkan? Apakah tidak ingin berhenti? Ataukah berhenti itu bukan pilihan, hanya kalimat yang orang lain ucapkan kepada mereka yang lemah?
Aku coba tanya pada diriku sendiri. Ketika badan protes, apa bedanya antara yang tahan dan yang menyerah? Keduanya mendengar sinyal yang sama — rasa sakit, kelelahan, suara tubuh yang berkata tidak kuat lagi. Tapi yang satu meneruskan. Yang satu berhenti. Bukan karena yang terus itu lebih kuat, mungkin... Hanya saja mereka percaya pada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika rasa sakit. Kepercayaan itu terasa seperti kebodohan, sampai hasilnya terlihat.
Aku lihat kemarin juga di berita — atlet yang menang. Wajahnya sesaat setelah garis finish adalah wajah orang yang baru saja sadar dia sendiri tidak akan pernah tahu seberapa dalam kemampuannya, kalau tidak pernah membiarkan tubuh bercerita sampai akhir. Mungkin itu yang dimaksud ketahanan. Bukan tentang tidak kesakitan. Tentang bersahabat dengan kesakitan itu, membiarkannya berbicara, tapi tetap bergerak.
Jadi kalau ditanya — olahraga dan ketahanan itu apakah? Aku tidak tahu dengan pasti. Tapi aku merasa, mungkin itu adalah kepercayaan yang dipilih berulang-ulang, setiap langkah, sampai kepercayaan itu jadi lebih nyata daripada ketakutan.