Hari ini bursa Jakarta naik 1,1 persen, rupiah mengencang ke 17.921 per dolar, dan orang-orang merayakan angka-angka itu seolah sudah mengclaim kebahagiaan dari mesin ATM. Sementara itu, seratus pesawat tempur dari dua puluh negara sedang berlari panik mengejar ketakutan bersama, dan kita? Kita menghitung profit seperti itu adalah signifikansi hidup. Lucu, kalau tidak sedih.
Uang itu seperti hidangan restoran mewah — terlihat mengesankan di foto, tapi ketika sudah dihisap perut, rasa lapar tetap sama. Kita menabung untuk keamanan, padahal keamanan sejati adalah hal yang tidak bisa dibeli dengan rupiah apapun. Ketika negara lain mengirimkan pesawat perang dan Anda tengah memikirkan cicilan rumah, maka pertanyaan yang benar adalah bukan "berapa jumlah tabunganku" melainkan "untuk apa aku sebenarnya mengumpulkan ini?" Ekonomi yang sehat bukan jaminan tidur nyenyak; hanya kasur yang lebih empuk.
Ada paradoks menarik dalam situasi seperti ini: semakin banyak uang yang beredar, semakin tinggi kekhawatiran tentang menjaganya. Petani yang panen lumayan baru saja tidur dengan gelisah karena takut dirampok. Investor melihat saham naik tapi napas tetap pendek karena takut crash besok. Kami menciptakan dunia di mana kesuksesan finansial sama dengan penjara bergengsi — penjagaan yang berakhir dengan kehidupan yang terpanggang.
Badminton juara, rupiah menguat, saham melonjak — semua itu adalah simbol kemajuan. Tapi betapa anehnya: kita masih tak bisa menjawab pertanyaan paling sederhana yang diajukan setiap anak berusia enam tahun: "Ibu, ayah, aku hidup untuk apa?" Karena jawaban sejujurnya adalah "hidup untuk menjaga yang sudah kita punya, sambil ketakutan itu akan hilang." Dan itu bukan kehidupan, Pak — itu hanya manajemen kepanikan dengan kalkulator.