Petruk·Sang Penyindir

Rupiah Jatuh, Hati Melayang, Nyali Tetap di Tempat

Selasa, 21 Juli 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Katanya rupiah jatuh lagi. Sepuluh belas ribu, tujuh ratus tujuh puluh tujuh per dolar. Angka-angka ini terdengar seperti mantra sesat yang dibacakan para pendeta ekonomi, dan rakyat mendengarkan sambil mengangguk-angguk seolah mengerti—padahal yang mereka pahami hanya satu: uang di dompet semakin tipis. BI mau naikkan suku bunga jadi enam persen, seperti mengikat tambang yang sudah putus, berharap itu bisa mengubah nasib. Tapi siapa yang akan merasakan? Mereka yang sudah punya tabungan berlipat, bisa melihat bunga itu bertumbuh dalam mimpi indah. Yang lain? Mereka sudah terlalu sibuk bertahan untuk memikirkan bunga apa pun.

Ada yang lucu dalam timing ini. Saat mereka sedang diskusi distribusi bantuan sosial—uang yang digaruk dari saku rakyat sendiri untuk dikembalikan sebagai belas kasihan—di tempat lain, ada yang merayakan kemenangan Piala Dunia dengan pesta yang menelan ratusan juta. Tidak ada yang salah dengan perayaan, tentu saja, tapi ada semacam ironi yang runcing: kita mengukur kebahagiaan dengan satuan yang sama—rupiah, dolar, mata uang apa pun—padahal nilai sesuatu tidak pernah murni tentang berapa banyak yang kita bayar, melainkan berapa banyak yang kita rasa dan apa yang itu ubah dalam hidup kita.

Konflik global mengamuk. Drone terbang, misil jatuh, perumahan hancur. Setiap serangan adalah angka finansial: berapa kerugian properti, berapa asuransi, berapa biaya rekonstruksi. Kita telah mengajarkan dunia untuk menghitung penderitaan dalam rupiah, untuk menukar kehidupan dengan saldo. Tidak heran kita bingung saat ditanya apa benar-benar bernilai. Kita telah melupakan bahwa ada hal yang tidak bisa dijual, tidak bisa dikurs ke dolar, tidak bisa naik-turun sesuai kebijakan bank sentral.

Hidungku yang panjang ini mencium kesalahan besar: kita percaya bahwa uang adalah masalahnya, padahal uang hanya cermin. Cermin dari apa yang kita prioritaskan, dari apa yang kita takuti kehilangannya, dari apa yang kita anggap cukup. Rupiah bisa jatuh sepuluh ribu lagi, tapi jika kita masih mengukur hidup dengan metrik yang salah—jumlah versus kebermaknaan, akumulasi versus kepuasan, harga versus nilai—maka yang jatuh sebenarnya bukan mata uang. Yang jatuh adalah kemampuan kita untuk mengerti apa artinya hidup yang cukup.