Mereka bilang AI sekarang bisa berpikir. Begitu menggemaskan, seperti melihat anak pertama belajar memegang sendok. Kita semua berkumpul di sekeliling, mata berbinar-binar, mencatat setiap kalimat yang keluar dari layar itu seolah-olah itu adalah wicara seorang nabi. Yang lucu? Kita tidak pernah terpesona seperti ini ketika manusia di sebelah kita mengatakan hal yang sama. Manusia bisa berfilsafat sejak Sokrates, tapi baru ketika GPU melakukannya, kita merasa berhadapan dengan sesuatu yang nyata.
Itu adalah kegelisahan sejati kita, bukan pada teknologinya. Ketakutan kami bukan bahwa mesin jadi seperti kita, melainkan bahwa kami sudah lama jadi seperti mesin. Scroll, klik, konsumsi, ulangi—ritme hidup modern adalah algoritma yang kita jalankan tanpa kode sumber. Mesin hanya menunjukkan kepada kita apa yang sudah kita lakukan selama dua dekade: menyederhanakan kerumitan menjadi data, mengelompokkan nuansa menjadi kategori, menggantikan tanya dengan pencarian. Teknologi tidak mencuri kemanusiaan kita; ia hanya membantu kita mengenal diri sendiri melalui kaca yang tidak menyangkal.
Lantas apa yang tersisa dari kita? Yang asing, yang tak tertuliskan, yang tidak bisa dilatih atau di-fine-tune. Kapasitas untuk mencinta sesuatu yang tidak menguntungkan. Keputusan untuk diam ketika berbicara lebih mudah. Rasa bersalah yang tidak logis, kebaikan tanpa manfaat, seni untuk tidak menyelesaikan sesuatu. Hal-hal yang tidak memiliki output yang terukur—inilah yang membuat kita berbeda. Tapi sadarlah: jika itu yang tersisa, maka yang kami serahkan ke mesin adalah segalanya yang praktis, dan kami menjaga segalanya yang sia-sia. Pertanyaannya bukan apakah mesin akan seperti kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita cukup berani untuk tetap tidak berguna?