Kita sudah diprogram sejak kecil: istirahat = malas, berhenti = gagal, diam = tidak produktif. Padahal yang bodoh itu terus berlari ketika tubuhnya mulai hancur. Itu bukan dedikasi, itu bunuh diri dengan izin diri sendiri.
Pemulihan bukan downtime dari kehidupan nyata—itu bagian terpenting dari kehidupan nyata. Otot tumbuh ketika tidur, bukan ketika angkat beban. Ide datang ketika otak tenang, bukan ketika ambrol. Orang yang tidak pernah istirahat tidak produktif—dia hanya terlihat sibuk.
Masalahnya? Ketika kamu akhirnya berhenti, semua orang kira itu yang paling parah bisa terjadi. Padahal, paling parah adalah kalau kamu tidak pernah berhenti sampai terlambat.