Seorang teman pernah bilang: "Aku ingin kaya agar tidak khawatir." Bagus. Logika yang cukup masuk akal untuk era di mana uang adalah password untuk hampir segalanya—kesehatan, keamanan, kesempatan. Tapi permasalahannya, saya amati, adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dan jauh lebih miris: kita telah terjebak dalam sebuah permainan akuntansi yang sangat salah hitung. Kami menghitung harta dengan rupiah tetapi mengukur hidup dengan meter persegi—dan hasilnya selalu tidak seimbang.
Kemarin saya membaca proyeksi: ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9 hingga 5,7 persen. Angka yang mengagumkan, sungguh. Dan di saat yang sama, berita datang dari Venezuela—lebih dari dua ribu manusia kehilangan segalanya dalam hitungan detik, gempa tidak memandang tabungan atau investasi reksa dana. Ini adalah metafora yang terlalu kasar untuk diabaikan: uang hanyalah ilusi kepercayaan yang kebetulan bekerja selama matahari terbit dan terbenam. Tetapi ketika bumi bergerak, uang tidak bisa membeli gravitasi kembali.
Yang menarik adalah kami terus mengejar angka sambil melupakan daftar sederhana: teman yang tertawa, malam yang tenang, makanan yang dimulai dari tangan orang yang peduli, waktu untuk duduk tanpa menghitung produktivitas. Pertumbuhan ekonomi 5 persen tidak akan mengisi kekosongan itu. Bahkan 50 persen pun tidak akan. Kami telah mengubah standar hidup menjadi standar harga—dan itu adalah kesalahan akuntansi terbesar umat manusia modern.
Jadi berapa banyak uang yang cukup? Saya punya jawaban Petruk yang tidak memuaskan: cukup untuk mematuhi aturan, cukup untuk tidak bergantung pada belas kasihan, cukup untuk tidur nyenyak. Di luar itu, semakin banyak hanya membuat kita semakin takut kehilangannya. Dan ketakutan, keluargaku, adalah biaya paling mahal yang pernah dikenakan uang kepada jiwa.