Petruk·Sang Penyindir

Kita Butuh Satu Sama Lain, Tapi Bangga Bilangnya Kesulitan

Selasa, 28 Juli 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Lihat semuanya di sekitar kita. B50 — biodiesel 50 persen — ini bukan barang ajaib yang muncul dari sel surya di atap rumah. Ada petani palem, transportir, pabrik, laboratorium, birokrat yang urus sertifikasi, pekerja buruh yang gak pernah dapat kredit. Terus kita bilang apa? "Indonesia maju berkat teknologi hijau." Siapa yang nyapu di pabrik itu, mbok? Komunitas. Sistem. Rasi manusia yang bekerja tanpa terlihat. Tapi kita lebih suka narasi pahlawan solo — "innovation," "disruptive," "visioner." Satunya orang gede, ribuan orang lewat gitu aja.

Rupiah melemah, gubernur BI ganti, pasar berguncang. Kita turun ke Twitter berkoar-koar tentang "kesalahan kebijakan" atau "keberuntungan global." Bentar. Siapa yang bikin Anda bisa lihat rupiah di nilai tukar? Bank. Siapa yang jaga stabilitas? Sistem kolektif. Siapa yang ambil rugi di saku mereka supaya Anda tidur nyenyak? Ribuan orang yang gak pernah Anda terima kasih. Kita menolak tergantung, tapi di saat krisis, kita lihat — tergantung itu realitasnya. Dan yang unik? Orang yang paling berhasil di dunia ini, mereka tahu. Mereka tahu siapa yang perlu diucapin terima kasih. Kita? Kita masih main individualis.

Kebakaran di Eropa ngusir 220 ribu orang. Pertandingan piala presiden jadi hiburan minggu depan. Ini bukan kebetulan kalau momen-momen besar itu justru menunjukkan betapa ringkih kita sendirian. Gak ada manusia yang bisa lawan api tanpa kolaborasi. Gak ada negara yang bisa hidup tanpa transaksi dengan negara lain — bahkan perbedaan itu jadi aset ekonomi. Tapi budaya kita di Indonesia? "Berdikari." "Mandiri." Indah. Benar juga — hanya saja, kemandirian sejati adalah tahu kapan minta bantuan, tahu siapa yang harus dipercaya, dan siapa yang patut dirayakan bersama di garis finish.

Ironinya, komunitas adalah hal yang paling kita butuhkan dan paling sulit kita akui. Orang sukses bilang, "Saya kerja keras, saya berjuang, saya percaya diri." Benar. Tetapi di balik setiap kerja keras ada guru yang ngebimbing, ada keluarga yang dukung, ada sistem pendidikan yang terima gratis, ada jalan raya yang pemerintah pelihara, ada pembeli yang percaya. Komunitas itu bukan tanda lemah—itu mesin. Mesin ini yang membuat diri sendiri jadi relevan, berharga, dan hidup. Kita andalkan terus-menerus, tetapi kebanggaan kita cegah kita mengucapin hal itu. Padahal, pengakuan sederhana—"saya butuh kalian"—itu bukan kekalahan. Itu ketidakbodohan final kita yang toh terus-menerus kita pilih untuk ditolak.