Lihat saja—ekonomi naik, orang-orang teriak kemenangan, sibuk kejar-kejaran target angka. Tapi mereka tidak pernah berhenti sebentar buat tanya: "Apa yang kita cari sebenarnya?" Ketenangan? Atau cuma takut tertinggal?
Terus ada yang bilang, ya ampun, empat puluh dua orang itu pulang—ninggalin keramaian, milih istirahat. Lihat stigma yang ditempel langsung: kalah, mundur, tidak termotivasi. Padahal mereka yang jelas, bukan yang tersesat di tengah bising.
Kesibukan itu candu murah—gampang dijustifikasi, gampang dirayakan, gampang lupa bahwa diri sendiri udah mati rasa. Yang butuh keberanian adalah duduk diam dan bilang: cukup—dan tidak perlu maaf buat itu.