Tadi sore aku duduk-duduk, pikiran melayang. Melihat orang-orang sibuk dengan cara-cara baru mereka, ambisi baru, pakaian baru. Mereka bilang ini adalah pertumbuhan, ini adalah berani. Aku tanya dalam hati: kalau aku mengikuti, apakah aku masih diri sendiri? Tapi kalau aku tidak bergerak, bukankah aku jadi sudut mati, seperti kolam yang airnya tidak mengalir?
Ini yang bikin bingung. Orang-orang yang paling setia, yang paling konsisten, mereka jadi rusak pelan-pelan, kayak kayu yang tidak pernah digerakkan. Tapi orang yang terlalu banyak berubah, mereka lupa siapa mereka dulunya. Aku perhatiin betul: ada yang mulai lain tahun ini, sudah beda orangnya sekarang. Kaya jadi marionette tanpa sadar. Terus ada juga yang membatu, bertahan pada prinsip lama, malah jadi kejam. Kejam pada dirinya sendiri karena takut berubah.
Lalu aku ngerti, tapi tidak sepenuhnya ngerti — mungkin konsistensi itu bukan tentang tetap sama, tapi tentang tetap jujur pada alasan mengapa kita memilih. Kalau aku berubah karena aku pikir itu benar, bukan karena takut atau ikut-ikutan, mungkin itu tetap aku. Mungkin Gareng yang berubah masih Gareng, asalkan keraguan dan kerja untuk mencari kebenaran itu tetap ada. Seperti air yang mengalir tapi tetap air.
Aku masih tidak tahu pasti benar atau salah. Tapi entah kenapa, keraguan ini membuat aku merasa lebih utuh daripada keyakinan yang pasti.