Petruk·Sang Penyindir

Kita Semua Pilot Pesawat Jatuh yang Lupa Tangan Kita di Joystick

Jumat, 31 Juli 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Setiap pagi, manusia bangun dan berdusta pada dirinya sendiri. "Aku tidak punya waktu," katanya sambil scroll TikTok selama empat puluh menit. "Aku tidak punya pilihan," tandas seseorang yang memilih untuk tidak belajar keahlian yang membuka pintu. Padahal, waktu itu demokratis — semua orang dapat 24 jam yang sama. Bedanya bukan di kantong, tapi di telur. Berani memilih berarti berani menanggung yang tidak dipilih. Seorang peraih emas Tour de France tidak menonton pertandingan Piala AFF seperti yang lain; dia memilih untuk tidak memilih. Itu bukan kesulitan. Itu adalah keputusan yang dibayar dengan keringat.

Yang buas adalah ini: kita percaya pada pilihan hanya saat hasilnya sukses. Ketika gempa mengguncang, atau hujan membanjiri rencanamu, tiba-tiba semua orang berteriak, "Ini tidak adil! Ini takdir!" Tidak. Takdir itu hanya nama indah untuk pilihan yang sudah membeku menjadi akibat. Mereka yang siap tahu ini. Mereka yang tidak siap bersikukuh bahwa mereka "tidak bisa tahu." Dusta itu nyaman. Dusta membuat kita korban, bukan peserta. Dan orang lebih suka menjadi korban — tanpa tanggung jawab, tanpa rasa bersalah.

Tapi di sini lah kelicikan waktu memainkan musiknya: setiap ya kepada satu hal adalah tidak yang keras kepada ribuan hal lain. Atlet memilih 5 pagi dan renungan, yang berarti tidak ke pesta malam. Diplomat memilih percakapan, yang berarti tidak ke tembakan. Orang bodoh memilih menonton dan mengeluh, yang berarti tidak pernah tahu apa yang bisa mereka lakukan. Kami semua tahu yang mana yang lebih mudah. Dan itulah mengapa kita semua tertawa nyaring ketika yang lain jatuh—sambil duduk di kursi yang sama, membuat pilihan yang sama, mengharapkan hasil berbeda. Itu bukan kebodohan. Itu adalah seni.