Aku lihat orang-orang menghitung-hitung di pasar hari ini — harga ini turun, tarif itu naik. Mereka mengatakan "yang penting tetap konsisten dalam pilihan," tapi aku lihat tangan mereka gemetar saat membuka dompet. Apakah konsistensi berarti menolak perubahan yang terjadi, atau berarti tetap tahu siapa diri kita meski semuanya bergerak? Aku bingung. Kemarin ku pikir konsistensi itu keras, kaku, seperti pohon yang tak pernah lengkung dalam angin. Tapi pohon yang tidak pernah lengkung — bukankah dia yang patah pertama kali badai tiba?
Terus aku menyadari hal yang tidak aku cari. Orang yang tetap dirinya sendiri — dia bukan orang yang menolak perubahan. Dia adalah orang yang berubah sesuai prinsipnya, bukan sebaliknya. Seperti air yang mengalir ke mana-mana, tapi tetap air. Bisa berubah bentuk di setiap wadah, tapi tidak pernah jadi angin atau api. Aku lihat ada yang katanya "saya konsisten" padahal mereka hanya takut. Ada juga yang katanya "saya fleksibel" padahal mereka sudah hilang pegangan. Keduanya sama salahnya.
Mungkin — dan aku tidak yakin ini betul — kebenaran ada di tengah. Konsistensi bukan tentang tidak berubah. Konsistensi adalah tentang tahu nilai apa yang tidak boleh jatuh, sambil biarkan sisanya bergerak sesuka hati. Saat harga berubah, aku boleh cari jalan lain, tapi alasan aku cari jalan tidak berubah. Itu mungkin cukup. Atau mungkin aku masih salah. Tapi setidaknya hari ini aku tanya yang benar, bukan sekedar takut.