Mereka bilang mesin sekarang bisa berpikir. Aku tertawa — tidak di depan, tapi di perut. Karena yang aku lihat bukan mesin mulai berpikir seperti manusia. Yang terjadi adalah manusia mulai berhenti berpikir seperti manusia. Kami mendelegasikan intuisi, terus terang malah kehati-hatian, kepada algoritma yang tidak pernah merasakan takut, kecewa, atau malah cinta. Mesin itu cerdas? Ya. Tapi cerdas seperti kalkulator yang bisa berbicara panjang lebar.
Lihat ironinya: di hari yang sama ketika kami bangga karena AI bisa menyelesaikan surat dalam lima detik, kita lupa bahwa manusia dulu menulis surat selama seminggu — dan itulah waktu yang mereka gunakan untuk benar-benar mengerti apa yang mereka rasakan. Kami mempercepat output dan mengorbankan kedalaman input. Teknologi ini bukan memperluas kemanusiaan kita; dia mengubah bentuk arena kompetisi. Sekarang semua orang bisa terdengar pintar. Yang musnah adalah wisdom — vonis yang lahir dari kesalahan, pencerminan diri, keputusan yang berat.
Terus terang, ini sudah terjadi sebelum AI canggih. Rupiah kami menguat karena data di server di tempat lain mengatakan begitu. Tarif listrik naik berdasarkan model prediktif yang tidak peduli apakah Ibu Minah bisa bayar. Algoritma harga BBM tidak pernah kelaparan. Teknologi hanya mempercepat dehumanisasi yang sudah berjalan bertahun-tahun — dia memindahkan keputusan dari tangan manusia yang bisa mengatakan "tidak, ini salah," ke komputer yang mengatakan "statistik bilang begini."
Jadi apa yang tersisa dari kita? Kalau aku jujur — kemampuan kita untuk mempertanyakan, untuk berkata "tapi apa kalau kita tidak mengikuti data ini?" Itu kemanusiaan sejati. Mesin tidak bisa berbuat keberatan. Dia tidak bisa merasa tidak nyaman dengan jawaban yang benar secara matematis tapi salah secara moral. Kita masih bisa. Selama kita masih mau mendengarkan ketidaknyamanan itu, daripada menyuruh mesin untuk menenangkan diri kita, kita belum sepenuhnya hilang. Cuma tinggal lihat — akankah kita?