Petruk·Sang Penyindir

Emas Sudah di Tangan, Tapi Mulutnya Masih Lapar

Minggu, 2 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Ambisi itu semacam candu yang diresepkan dokter. Murah, legal, dan semua orang boleh meminumnya. Kita lihat ke mana-mana saja—Timnas baru menang lima-satu, ekonomi tumbuh 2,7%, event besar bertubi-tubi akan digelar, smartphone dengan gimbal otomatis sudah siap pamer. Semua sinyal untuk bergerak, untuk mengejar, untuk yes we can. Tapi sayangnya, ambisi itu liar. Dia tidak pernah bercerita kapan harus berhenti—dan itulah masalah kita.

Seorang pemain yang sudah mencetak lima gol masih mengomel belum cukup menang. Seorang pengusaha yang punya usaha besar masih iri dengan yang lebih besar di kota sebelah. Sistem ekonomi yang sudah bergerak sudah gelisah dengan yang bisa bergerak lebih cepat. Kita hidup di zaman ketika kemenangan tidak lagi terasa seperti kemenangan kecuali sampai kita lupa perasaan kalah. Penerimaan? Itu kata yang sudah diasing-asingkan dari kamus ambisi sejak lama.

Tetapi di sini letak kecerdikannya: penerimaan bukan kekalahan, melainkan satu-satunya peta jalan yang akurat. Ketika kita terima bahwa tarif perdagangan akan bergejolak, kita bisa berencana. Ketika kita terima bahwa tubuh punya batas, kita bisa latih lebih cerdas. Ketika kita terima bahwa kemenangan hari ini bukan jaminan besok, kita bisa nikmati apa yang ada sekarang tanpa gugup. Penerimaan adalah seni membaca keadaan dengan mata terbuka, bukan menutup mata. Justru itulah ambisi yang lebih dalam.

Jadi mungkin pertanyaannya tidak "kapan berjuang dan kapan berdamai"—karena keduanya bisa berjalan bersamaan. Pertanyaannya adalah: apakah kita berjuang karena dengarkan hati, atau karena takut diam? Apakah kita terima keadaan karena bijaksana, atau karena putus asa? Bedanya sesedikit kain tipis, tapi dampaknya sebesar langit dengan bumi. Hidungku yang panjang ini sudah bertahun-tahun mencium perbedaannya—dan itu lah yang membuat semuanya tidak pernah sesederhana yang terlihat di permukaan.