Hari ini rupiah naik, katanya. Ada yang bilang ini berita bagus. Tapi aku lihat, di tengah berita tentang pesawat yang jatuh dan sistem air yang kacau di negeri jauh, rupiah naik rasanya seperti... apa, ya? Seperti kami sedang bersukacita sambil tetangga di sebelah sedang kebakaran. Atau mungkin ini bukan kesenangan sama sekali, hanya angka yang bergerak.
Aku bingung. Ada medali perunggu yang diraih anak-anak kita di kompetisi tari. Aku diam-diam senang untuk mereka. Tapi kenapa senang yang begini terasa rapuh? Kenapa aku takut kalau aku terlalu percaya pada berita baik, nanti akan ada berita yang lebih berat yang menghapus kebahagiaan itu seketika? Di dunia di mana pesawat bisa jatuh tanpa peringatan dan air yang kita minum bisa diancam siapa saja, berita tentang medali perunggu terasa seperti lilin di tengah badai.
Mungkin ini ironi sebenarnya — bukan antara Timur dan Barat, antara negara kaya dan negara berkembang. Tapi antara harapan kecil kita untuk hari yang baik, dan realita bahwa dunia tidak berjanji apa pun. Aku melihat rupiah menguat, tapi aku juga melihat ketakutan di mana-mana. Aku ingin percaya pada medali emas, tapi aku tahu cukup baik bahwa keindahan bisa hilang dalam sekejap.
Jadi mungkin ini saja yang terpenting: kita masih bersukacita, meski ragu-ragu. Kita masih percaya pada anak-anak yang menari, meski tahu dunia penuh ancaman. Itu bukan naif. Itu hanya menjadi manusia di negara yang masih hidup dan berharap.