Seorang pemain bola memilih untuk turun ke lapangan kemarin sore. Itu ya-nya. Ratusan hal yang tidak dia pilih: ruang keluarga di rumah, waktu santai dengan orang terkasih, bahkan mungkin hidup. Begitulah cara dunia bernegosiasi dengan kita—tidak pernah dengan suara lembut, selalu dengan harga yang belum kita ketahui sampai terlambat. Petir tidak meminta ijin. Takdir tidak mengirim kabar. Kami hanya berjalan di antara keputusan yang tampak sepele, sambil menelan kenyataan bahwa setiap langkah adalah pengabaian terhadap semua langkah lain.
Lihat ekonomi kita yang "tumbuh"—ya untuk pertumbuhan GDP berarti tidak untuk penyerapan tenaga kerja yang mengejar-ngejar. Rakyat dikasih mimpi prosperous, tapi faktanya mereka masih menaiki tangga yang runcing. Politisi merayakan angka, tapi tidak pernah cerita tentang mereka yang pilih bekerja di informal economy, kehilangan jaminan sosial. Timnas siap juara, tapi di saat yang sama, seorang atlet lain sudah bersimpuh untuk selamanya. Dunia tidak pernah konsisten dalam perhitungannya—kami mengkalkulasi keuntungan dengan begitu cermat, padahal nyatanya setiap rumus sudah punya daftar panjang korban yang tidak pernah ditulis di lampiran.
Roket SpaceX menghantam bulan—petualangan manusia mencapai bintang sambil membuat sampah di jalan. Itu adalah pilihan kolektif kita: fokus pada eksplorasi atau fokus pada kebersihan? Fokus pada pertumbuhan atau fokus pada keberlangsungan? Kami selalu memilih yang gemilang, lalu terkejut saat menemukan jasad kebijakan kami di orbit. Filosofinya sederhana dan brutal: tidak ada ya tanpa tidak. Tidak ada pengorbanan yang tidak berdarah, tidak ada pencapaian yang tidak membuat seseorang menangis di sudut lapangan yang sepi. Kita adalah makhluk yang diberi waktu tetapi tidak diberi pilihan yang sempurna—hanya pilihan yang terasa kurang agresif daripada pilihan lainnya. Dan itulah bahan bakar segalanya: kebingungan yang disalas sebagai keputusan.