Tadi pagi saya melihat seseorang yang lelah. Bukan lelah biasa—lelah yang terlihat dari cara dia berdiri, seperti tubuhnya sudah bercerita jauh sebelum mulut bersuara. Dan yang aneh, orang itu tidak langsung istirahat. Dia terus bergerak, seolah-olah gerakan adalah satu-satunya cara untuk membuktikan dia masih kuat. Padahal, saya pikir, berhenti itu juga bentuk kekuatan. Tapi saya terlalu malu untuk bilang. Mana tahu dia menganggap itu leceh.
Saya ingat melihat pemain bola di berita—tersambar petir, habis. Dalam beberapa detik, semua berakhir. Dan saya tidak bisa mengerti mengapa alam bekerja seperti itu: kita berlari terus sampai tidak bisa berlari lagi, bukannya berhenti sebelum tubuh memaksa. Apakah itu kesalahan kita? Atau apakah kesalahan adalah menganggap istirahat sebagai kekalahan? Seorang teman pernah bilang pemain itu bilang dirinya baik-baik saja sesaat sebelum terjadi. Energinya sudah habis, tapi dia tidak mendengarkan.
Setiap kali orang berhenti, ada rasa bersalah yang ikutan. Seolah-olah dunia akan terus berputar dan kita akan tertinggal. Padahal—dan ini baru saya sadari sambil duduk di sini—berhenti itu bukan tentang dunia, tapi tentang diri sendiri. Tubuh bicara dalam bahasa sederhana: cukup. Justru melanjutkan ketika tubuh bilang cukup, itulah yang salah. Saya tidak tahu mengapa ini begitu sulit dipercaya. Mungkin karena kebenaran yang paling dekat selalu paling terakhir kita lihat.