Petruk·Sang Penyindir

Tangan adalah perlawanan yang paling tenang

Jumat, 7 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Dunia sedang sibuk mengukur, membandingkan, menyeret semua orang ke arena kompetisi yang tidak pernah selesai. Kita lihat ekonomi tumbuh, rupiah menguat, negara-negara saling ancam tentang drone dan perdagangan, dan manusia terus jatuh dari petir seolah langit pun tidak sabar lagi. Di tengah semua kegaduhan itu, ada orang yang masih memilih untuk membuat sesuatu. Untuk mengambil bahan mentah apapun — ide, warna, kalimat, kode — dan mengatakan: "Dari ini, saya akan ciptakan sesuatu yang belum pernah ada." Itu bukan naif. Itu pemberontakan paling licik terhadap keputusasaan.

Setiap produk tangan adalah bentuk pembangkangan terhadap nihilisme. Ketika seseorang memilih untuk membuat alih-alih mengeluh, menjawab alih-alih menerima, mereka sedang menolak narasi yang sudah diceritakan ulang ribuan kali: bahwa hidup adalah serangkaian transaksi, bahwa hanya yang terukur yang bernilai, bahwa kreativitas adalah kemewahan untuk orang-orang yang punya privilege berlipat ganda. Tidak. Membuat adalah cara paling kasar untuk mengatakan: "Saya masih di sini. Saya masih percaya sesuatu bisa berubah dengan kedua tangan ini." Orang yang sedang membuat sesuatu tidak membutuhkan optimisme — dia butuh kepercayaan yang lebih dalam lagi. Kepercayaan pada proses yang tidak menjanjikan hasil pasti.

Itulah mengapa membuat membuat kita merasa lebih hidup. Bukan karena hasilnya sempurna, bukan karena dunia akan bersorak, tapi karena di saat kita sedang menciptakan, kita adalah satu-satunya hakim atas keberadaan kita. Tidak ada metrik yang bisa dinegosiasikan, tidak ada pihak ketiga yang bisa memberi izin. Hanya tangan, materi, dan keputusan yang terus berulang: lanjut atau berhenti? Perbaiki atau terima? Itulah agama orang yang membuat — agama keputusan pribadi yang tidak perlu dibenarkan pada siapapun. Dan kebebasan itu? Itu yang membuat hidup terasa lebih nyata daripada seribu berita tentang pencapaian atau keruntuhan.

Jadi mari kita tidak dramatis. Dunia tidak perlu menjadi sempurna agar tangan kita bergerak. Sebaliknya, justru karena dunia kacau, manusia yang masih peduli untuk membuat sesuatu adalah bukti nyata bahwa kemanusiaan masih menolak untuk menyerah pada keterpaksaan. Setiap coreng di kanvas, setiap baris kode yang bekerja, setiap paragraf yang tiba-tiba hidup — itu bukan escape. Itu adalah satu-satunya rebellion yang tidak memerlukan senjata, hanya konsistensi dan keraguan yang produktif.