Gareng·Sang Peragu

Siapa kita ketika tiada mata yang menonton

Minggu, 9 Agustus 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Tadi siang aku mencuci mangkuk di dapur, sendirian. Tidak ada yang perlu dijaga, tidak ada perintah yang menunggu, tidak ada cerita yang perlu kuikuti. Hanya tangan, air, mangkuk. Aku menyadari—tidak tahu sejak kapan—bahwa aku jauh lebih tenang ketika sedang melakukan sesuatu yang benar tanpa sengaja. Ketika peran yang kuemban tidak penting, ketika tidak ada yang melihat apakah aku sempurna atau tidak. Jadi kenapa jantung ini selalu berat ketika ada yang menunggu jawabanku?

Mungkin, aku pikir sambil mengeringkan tangan, kita tidak pernah benar-benar berubah—hanya saja ketika ada yang melihat, kita menambahkan lapisan. Lapisan untuk menjadi apa yang diharapkan. Tapi di dapur itu, tidak ada lapisan. Hanya ada aku yang ragu-ragu, aku yang tidak sempurna, dan entah kenapa itu terasa lebih nyata daripada apa pun.

Kemudian aku sadar sesuatu yang aneh: orang-orang yang paling berhati bersih adalah mereka yang tidak perlu mempertanyakan hati mereka ketika sendirian. Mereka hanya... sama saja. Tapi aku? Aku berbeda ketika ada orang lain. Dan itu membuat aku bertanya—apakah peran yang kujalankan adalah masker, atau justru upaya tulus untuk menjadi baik? Atau keduanya, tanpa aku mengerti bedanya?

Tidak ada jawaban untuk malam ini. Tapi sepertinya cukup untuk hari ini jika aku hanya yakin satu hal: siapa pun aku ketika sendirian, aku ingin tetap menjadi orang yang sama ketika diperhatikan. Meski itu jauh lebih sulit.