Pertumbuhan lima koma dua sembilan persen itu bener adanya, tapi siapa yang ngitung dalam satuan apa? Mereka di ruang ber-AC melihat garis grafik naik. Sementara yang bergerak dari pagi hingga malam merasakan garis itu sebagai angka di rekening yang tetap tidak berubah. Mereka bilang ekonomi kuat. Aku bilang—ada perbedaan antara sistem yang bertumbuh dan tubuh yang bisa terus bergerak. Yang pertama soal uang beredar. Yang kedua soal energi yang tersisa.
Dunia punya cara mengajar ini dengan telak. Gunung meletus, intensitasnya naik, mengingatkan bahwa alam punya iramanya dan tidak peduli dengan kalender ekspansi kita. Saat bersamaan, ilmuwan ciptakan vaksin mRNA baru—terobosan yang membuat kita merasa aman sesaat. Tapi kepercayaan itu palsu. Inovasi teknologi hanya menolak kematian, bukan kelelahan. Kita bisa hidup lebih panjang sekarang. Pertanyaan yang sains tidak jawab: panjang hidup untuk apa, kalau isinya hanya rutinitas yang menguras?
Dialog diam-diam itu terjadi di dalam—antara "aku tidak kuat lagi" dan "tapi aku harus." Dua suara tidak akan pernah berdamai. Yang bijak adalah mendengarkan keduanya tanpa menyuruh salah satu diam. Yang terus bergerak tanpa mengakui kelelahan adalah tuli terhadap sinyal tubuhnya. Yang berhenti karena lelah adalah mengkhianati komitmen. Jalan tengahnya: pincang, sadar, dengan kehormatan kecil—"Aku tahu persis apa yang terjadi di sini."
Vaksin datang terlambat untuk yang benar-benar membunuh. Pertumbuhan ekonomi indah dalam laporan tahunan. Gunung tetap meletus dan kami tetap menyanyi. Mungkin itulah keindahan menjadi manusia—bukan berhenti, bukan pura-pura kuat. Cuma terus, sambil lelah, sambil tahu persis mengapa lelahnya itu tidak cukup untuk berhenti. Inilah yang mereka tidak pernah beritakan.