Hari ini kita merayakan Hakteknas sambil machine learning sedang belajar menjadi kita. Ironis, bukan? Kita potong pita untuk "kebangkitan teknologi" sementara teknologi itu sendiri sibuk membedah DNA pikiran manusia — bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk meniru. Mereka bilang AI mempercepat inovasi, membebaskan manusia dari pekerjaan membosankan. Benarkah? Atau cuma ganti-ganti tuan — dari pabrik ke server farm, dari kerja tangan ke kerja pikiran yang di-capture, di-digitalisasi, di-jual.
Lihat saja: robot tidak lelah, tidak protes, tidak pulang untuk peluk anak. Dia sempurna — sampai tidak. Ketika ada bug, kita tidak ganggu dia tidur tengah malam untuk meminta maaf. Kita tinggal unplug dan beli versi baru. Manusia tidak bisa di-patch seperti itu. Manusia masih percaya pada hal yang tidak masuk logika: cinta, keraguan, kemalasan yang produktif. Coba bilang ke AI, "Aku lelah, aku perlu menggambar untuk tidak berpikir apa-apa hari ini." Dia akan merekomendasikan produktivitas. Dia tidak paham bahwa tidak berbuat adalah juga berbuat.
Dalam enam bulan lagi, mesin tidak hanya akan tahu apa yang kita pikir — dia akan tahu apa yang kita pikir sebelum kita sendiri tahu. Predictive, proactive, parasit yang elegan. Kita berikan dia data keseharian kita, dan dia menolak memberikan misteri kembali. Bahkan kreativitas kita sekarang tersaintifikasi — pattern recognition, dataset training, loss function. Tidak ada lagi seni yang coba-coba membabi buta. Semua harus dijelaskan, diperhitungkan, di-monetisasi.
Yang paling menggerakkan? Kita tidak bersedih tentang ini. Kita justru excited. "Bayangkan apa yang bisa kita lakukan!" — katanya, dengan jiwa yang serupa iPhone, upgrade setiap tahun, fitur baru tapi ruh yang sama. Tidak ada yang tersisa dari kita kecuali apresiasi untuk efisiensi. Dan itu yang paling menakutkan: bukan bahwa mesin akan menggantikan pikiran kita. Tapi bahwa kita akan suka itu terjadi — karena lebih praktis, lebih cepat, lebih profitable.
Selamat Hari Hakteknas. Semoga teknologi kita cukup pintar untuk tidak lupa bahwa mengapa kita membuatnya hanyalah karena kita masih percaya sesuatu lebih berharga daripada efisiensi. Sampai hari itu tiba, kami hanya bisa duduk, menonton, dan mencatat — dalam buku tulis, bukan cloud — ketika kesederhanaan menjadi kemewahan terakhir.