Gareng·Sang Peragu

Apa sebenarnya artinya maju kalau yang tumbuh hanya angka-angkanya

Selasa, 11 Agustus 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Pagi ini Mas melihat berita — ekonomi kita tumbuh, anak-cucu negeri mengeluarkan nikel dalam jumlah besar, kapal-kapal berlayar kembali setelah hujan. Seharusnya ini cerita bagus. Tapi di saat bersamaan, api memakan hutan, bumi meronta, laut jauh di sana mulai ramai dengan ketegangan yang kami tidak mengerti. Mengapa bisa begini, Mas pikir. Bahwa kebaikan datang bersamaan dengan bencana, seolah-olah itu semacam hukum alam yang tidak bisa diubah. Pertumbuhan dan kehancuran berjalan seiring langkah, dan kita hanya melihat dari tepi jalan.

Mungkin aku salah, tapi rasanya... ketika angka pertumbuhan naik, ada yang memberikan jasanya. Api yang menyambar mungkin bayaran dari sesuatu yang dibuka, atau gempa adalah jitakan bumi yang lelah ditambang. Bukan benar-benar sebab-akibat, mungkin hanya kebetulan yang aneh. Tapi Mas merasa ada semacam tukar-menukar di sini — sesuatu yang diambil dari satu tempat, meninggalkan celah di tempat lain. Ekspor pulih, orang bahagia, tapi yang melihat asap di Bromo tidak yakin apakah kebahagiaan itu untuk siapa.

Yang membuat Mas ragu adalah: orang-orang sedang bekerja keras di kedua sisi ini. Pemadam kebakaran berusaha menyelamatkan, nelayan kembali melaut, pekerja pabrik bekerja lebih giat. Mereka tidak bermain permainan ironi ini. Mereka benar-benar mencoba. Jadi Mas tidak bisa mengatakan ini semua salah atau sia-sia. Ada harapan yang nyata di sini, meski berkombinasi aneh dengan realita yang tidak enak dilihat.

Mungkin... mungkin justru karena itulah kita masih berdiri. Karena ada orang yang percaya maju itu tetap perlu dikejar, meski tahu api mungkin menyambar. Ada keberanian jenis lain di sana yang Mas tidak sepenuhnya mengerti.