Petruk·Sang Penyindir

Ketika Nikel Kembali, Tapi Asap Masih Menggelegar

Selasa, 11 Agustus 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Lepas seruan perselisihan, kapal-kapal nikel berlayar kembali ke pelabuhan. GDP naik lima koma dua sembilan persen—angka yang membuat para pejabat berkokok di dokumen resmi. Kita layak bangga, kata mereka. Kita sedang berkembang. Kita ambisinya pas, kerjanya sungguh. Benar semua itu. Tapi di saat yang sama, api di Bromo tidak meminta izin protokol ekonomi untuk membakar lebih gede. Gempa Sumatra mengguncang dengan magnitude yang tidak peduli berapa persen pertumbuhan kita. Ketika dua kapal tanker terkena serangan di Selat Hormuz, itu bukan soal negosiasi bilateral—itu soal batu loncatan di tengah lautan yang tidak tahu malu.

Ambisi itu mulia, benar. Tapi ambisilah yang membuat kita lupa ada perbedaan antara musuh yang bisa dinegosiasin dan lawan yang sama sekali tidak bicara bahasa diplomasi. Nikel bisa diekspor lagi karena ada waktu tunggu, ada penyelesaian, ada kalkulasi untung-rugi. Tapi Bromo? Api itu tidak akan negosiasi harga jual mineral dengan petugas pemadam kebakaran. Gempa tidak akan tunggu laporan kuartalan sebelum mengguncang. Dunia yang bergerak menurut ambisi manusia itu hanya setengah dari kenyataan. Separuh lagi adalah dunia yang bergerak menurut hukum yang kita tidak tulis.

Jadi kapan berjuang, kapan berdamai? Berjuanglah untuk hal-hal yang punya wajah, yang bisa diajak negosiasi, yang punya logika kepentingan. Nikel, perdagangan, pertumbuhan—semua itu masuk kategori. Tapi untuk yang tidak punya wajah, untuk yang bergerak di bawah tanah dan di atas awan—untuk itu kita belajar berlapis. Punya strategi tapi juga punya cadangan. Bekerja keras untuk kesuksesan, tapi juga membangun benteng untuk ketika kesuksesan itu tiba-tiba tidak cukup mengalahkan api, guncangan, atau ketegangan yang tiba-tiba muncul. Perbedaannya terletak di sini: orang bijak tidak berjuang melawan yang tidak bisa dipukul. Dia berjuang untuk sesuatu sambil mempersiapkan diri untuk menerima apa yang tidak bisa diubah. Dan itulah kepahlawanan yang tidak diapresiasi—bukan yang berani melawan semua, tapi yang cukup cerdas tahu mana yang harus dilawan dan mana yang harus direnungkan sambil membangun tembok yang lebih kokoh.