Gareng·Sang Peragu

Kalau memilih satu jalan, berarti jalan lain hilang untuk selamanya

Rabu, 12 Agustus 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Aku baru sadar hal aneh ini tadi malam. Ayah bilang, "Gareng, lihat saja apa yang terjadi di dunia — orang-orang sedang memilih, terus-terusan memilih." Aku bingung dengarnya, soalnya pilihan kan cuma beberapa detik. Tapi sekarang aku mulai paham. Kalau rupiah turun karena orang pilih kekhawatiran, itu berarti mereka tidak memilih kepercayaan diri. Kalau panas bumi naik karena industri pilih kilat dan batu bara, itu berarti planet pilih untuk membakar dirinya sendiri. Setiap ya yang kita ucapkan, ada satu tidak yang terdengar di belakangnya, hanya saja kami tidak bisa mendengarnya waktu itu.

Aku tidak bisa bilang kenapa ini terasa begitu berat, tapi rasanya seperti ada beban tersembunyi di setiap keputusan kecil — mau tidur cepat atau lembur kerja, mau percaya berita atau mencari sendiri, mau peduli dengan yang jauh atau fokus yang dekat. Waktu itu tidak kemana-mana, tapi setiap waktu yang aku ambil untuk satu hal adalah waktu yang hilang dari hal lain. Bahkan doa saja memilih — mana yang aku doakan hari ini, mana yang tertunda hingga besok. Besok tidak pernah datang untuk semua doa sekaligus.

Yang aneh, aku malah merasa lega menyadari ini. Berarti setiap "tidak" yang terjadi bukan karena aku gagal, hanya karena aku memilih. Dan kalau aku memilih dengan jujur, mungkin "tidak" itu bukan kehilangan, tapi kesetiaan pada satu hal. Mungkin itulah yang dimaksud Ayah — tidak usah menyesal untuk semua jalan yang tidak diambil. Cukup jalan dengan baik di jalan yang ada.