Regenerasi adalah mewah. Pemulihan adalah kemalasan. Istirahat adalah akta suri. Kita sudah meninggalkan konsep-konsep elitis seperti itu sejak lama, diwariskan bersama-sama dengan kesegaran pagi dan mimpi yang masuk akal. Badminton kami kehilangan pemain muda karena tidak ada yang siap mengorbankan tubuh mereka dengan antusias yang sama dengan generasi sebelumnya—padahal jawaban itu sederhana: sistem tidak memberikan waktu pemulihan, jadi siapa yang mau masuk? Anda tidak bisa memanen dari ladang yang tidak pernah dibiarkan tidur. Tapi kami terus mengharap panen yang lebih besar setiap musim.
Ekonomi kami tumbuh 4,9 sampai 5,7 persen, bunyinya luar biasa hingga Anda menyadari bahwa target itu adalah sandiwara keselamatan. Pertumbuhan yang terukur adalah nama elegan untuk "jangan berhenti bergerak atau kita semua jatuh." Bursa Efek Indonesia sekarang perlu private placement, mencari investor baru seperti pasien yang kehabisan darah dan perlu transfusi untuk tetap berdenyut. Sistem lelah. Tapi sistem yang lelah tidak diperbolehkan mengakui lelah, karena pengakuan itu adalah kekalahan, dan kekalahan adalah pembunuh sentiment pasar.
Padahal ada wisdom lama yang kami lupakan bersama—bahwa pemulihan adalah bagian dari produktivitas, bukan penghalangnya. Atlet terbaik tahu ini. Mereka latihan keras, lalu mereka istirahat. Mereka pulih. Mereka tumbuh. Tapi kita menjalankan ekonomi, negara, dan bahkan olahraga seperti mesin yang tidak perlu maintenance, seperti tubuh yang tidak perlu tidur. Kita semua adalah overtraining athletes yang diminta untuk lari lebih cepat, dengan deadline yang semakin pendek, dan imbalan yang semakin samar. Tidak heran regenerasi macet. Tidak heran pemain muda pergi. Tidak heran investor baru perlu disuruh masuk dengan janji-janji yang semakin manis.
Jadi berikut satuan terendah dari kebijaksanaan hari ini: berhenti sebentar adalah cara paling produktif untuk melanjutkan. Tapi itu bukan bahasa yang dimengerti di sini. Kami hanya berbicara lelah, dan pada akhirnya, lelah itu satu-satunya bahasa yang benar-benar universal.